Selasa, 13 April 2010

Lirih

Seperti saat lalu,
Ketika asa semakin lirih,
Dingin ikut-ikutan memilu,
Tergeletak tak terperih.

Ujung nafas yang kesakitan,
Kutarik lagi!
Meski tadi sempat terbuang,
Aku takut tak kembali.

Biar penat tak mengikuti,
Aku ingin tetap bernyanyi,
Melodi sendu biar pula,
Daripada harus ternganga.

Telah nyata terungkapkan,
Namun ku tepis berkali-kali,
Mudah-mudahan tak bosan-bosan,
Senyuman itu mengalir.

Kadangkala ada air mata,
Hari ini tidak akan!!!
Walau telah lama meronta,
Dan mencoba membutakan.

Sahabat Sahabatku,

Aku cukup sadar setengah mati,
Kita akan berlalu,
Semoga sampai nanti.

Televisi

Hey!! apa yang sedang kamu lakukan?
Kamu bertingkah lagi,
Dasar tak punya ideologi!
Kalaupun ada, ideologi apa??!!
Pasar???
Memangnya pasar itu sebuah ideologi?
Pasar pun memiliki pilihan ideology,
Setidaknya begitu,
Entahlah...

Aku sudah muak!!
Menjengkelkan,
Setiap hari begitu terus,
Adakah yang bisa menghentikanmu??
Jawab aku!!!

Siapa juga yang bisa menghentikan kamu,
Mereka sudah terbuai,
Katanya oleh kesenangan tiap saat,
Kamu begitu meraja,
Di sini.

Subuh,
Sangat religius.

Pagi,
Lelucon bangsa.

Siang,
Drama negeri dalam dramaturgi politik dan budaya.

Sore,
Kombinasi melankolis dan derita.

Malam’
Kompleks.

Tengah malam,
Cabul.

Hendak kemana kita??
Terserah.
Pilihannya ada banyak,
Tergantung selera hegemonisnya yang mana.

Seksualogika

Jika kau memintaku untuk menyimpannya,
Aku bersedia melakukannya,
Biar tetap kusimpan sampai tiba masanya,
Meskipun lama.

Aku juga tak pernah berfikir untuk meraihnya,
Apalagi harus mencobanya,
Sementara dia pun masih begitu,
Tertutup rapat berharap ada yang membukanya.

Ketakutan mungkin pula ikut mendera,
Atau perasaan lain yang berusaha mencengkeramku,
Untuk tetap tinggal diam tak berbuat,
Jangan-jangan ketika kubuka, tak ada kamu disana.

Berat

Kita tak bisa lagi terus berlari,
Berjalan pun harus tertatih

Masih ada jejak kaki yang kita tinggalkan,
Dari tapak-tapak cerita lama,
Dan aku masih di belakangmu untuk mengejar,
Sebab masih ada beberapa serpihan yang belum kita selesaikan.

Aku menahanmu pergi,
Untuk menyelesaikan cerita itu.

Puisi Etnografi; Luka Sebuah Negeri

Bu Angku,
Masihkah kau huni ebe-ae yang dulu ?
Masihkah kau urusi wamdabu,
Amanat adat atas keperempuananmu,
Untuk memenuhi kewajiban upacara,
Atawa membayar mahar,
Manakala suami kawin lagi,
Masihkah ?...

Itulah yang menyebabkanku luka,
Mengiringi jabatan tanganku,
Kala pamitan meninggalkan Kurulu,
Meninggalkanmu yang melengos tersipu...

Belakangan,
Di penghujung abad ini,
Lagi-lagi tersiar kabar kalian tertangkar musibah lapar,
Ya ampun, Lapar!...

Scavengers

Dikerutan lingkar wajahmu,

Telah terbiasa terkoyak dilema hari,

Di sana masih ada tersisa sebongkah semangat membara,

Meski tak setiap waktu kau bakar,

Nyalanya tak pernah redup,

Tak pernah padam,

Seperti api di kuil-kuil zoroaster,

Sampai datang sang penyelamat kehidupan,

Bedanya, Kau tak pernah menunggu seseorang untuk menyelamatkanmu.

Pintu Tanpa Kunci

Sudah berakhir,
Pintu itu tak akan pernah terbuka olehku,
Kecuali aku harus menggali sampai ke dasar bumi,
Untuk mencari kunci yang telah ku buang jauh-jauh,
Dan itu mustahil bagiku.
Titik!!!

Antara Kunci dan Pintu (IV)

Pada suatu ketika yang mungkin belum lama berlalu,
Aku masih mencoba merenungi bisikan-bisikan itu,
Sambil memikirkan dimana kunci yang tepat itu tertinggal,
Lalu secara mengejutkan dan tak kusangka-sangka,
Beberapa kawan menghampiriku,
Spontanitasku bertanya kepada mereka : "apakah kalian sumber suara-suara bingar itu?"

Aku tahu Sang Pencipta mencipta berpasang-pasangan,
Aku pikir segalanya seindah keajaiban itu,
Begitu pun antara kunci dan pintu,
Tapi tak kusangka ada pintu yang tak memiliki kunci,
Lalu (lagi) kutanyakan kepada mereka : "benarkah pintu ini tak memiliki kunci?"

Mereka diam saja,
Hanya keheningan yang menggelora.

Lalu (sekali lagi) aku bertanya,
Pertanyaan yang sama,
Namun melodinya tidak selembut tadi,
Dan tiba-tiba semua menoleh kearah pintu yang lain,
Kemudian secara bersamaan berteriak : "...itulah pintu yang kau tuju!!!"

............
Kusambut teriakannya dan berkata : "tapi kuncinya telah kubuang..."

Antara Kunci dan Pintu (III)

Membekas jelas dibenakku,
Kalimat singkat mengusik naluri,
Seolah itu harapan besar bagiku,
Dan satu-satunya kenyataan yang tak pernah terjadi.

Apa yang telah kulakukan,
Aku melukai diriku sendiri,
Dengan sayatan tipis yang akan menganga,
Hanya karena emosi yang membuta.

Kini dengarkan aku,
Aku tak mau lagi mendengarkan bisikmu,
Serta suara-suara bingar yang menggema di luar sana,
Terlalu membingungkan! Menyesatkan pula.

Siapapun kau (atau apapun kau),
Aku tak sanggup lagi meneruskan,
Permainan yang kita mulai,
Tentang kunci dan pintu.

Maka jika kau memiliki kunci itu,
Bantu aku untuk membukanya,
Sebab nafasku sudah tak ada lagi,
Untuk mencoba meraih pintu-pintu yang lain.

Antara Kunci dan Pintu (II)

Hari ini mulutku begitu kelu,
Tanganku gemetaran pula,
Peluh kian melumuri tubuh,
Sejenak seolah semua berhenti.

Raut wajahku kembali beraksi,
Mataku tak mampu berlama-lama menyaksi,
Aku tak tahan ingin segera keluar dari sini,
Meninggalkan kenyataan yang tak berpihak.

Pintu telah terlanjur kubuka lebar,
Aku terkejut setengah mati,
Menatap kekosongan yang terjadi,
Dan benar tak ada orang disana,
Tidak ada penyesalan lagi.

Bawakaraeng

Kusempatkan mengintip peraduan siang,
Dalam cahaya yang masih teramat remang,
Siapa tahu esok tak bisa ku dapati seonggok terang,
Padahal aku masih memuja langit permaisuri anging mamiri,
Tepat di kaki bukit bawakaraeng.

Rabu, 07 April 2010

Antara Kunci dan Pintu

Ada yang bilang,
Mungkin karena terlalu terbiasa.
Tetapi,
Tak cukup menjelaskan bagaimana itu terjadi.

Sempat pula kudengar,
Karena alasan tak ada pilihan lain.
Namun,
Terlalu klise kurasa.

Pada kesempatan lain,
Ada yang berceloteh (entah karena keisengan saja),
Semua,
Karena takdir yang telah ditentukan.

Aku punya argumen lain,
Pastinya cukup kuat,
" Alunan hampa mengajak kita bernyanyi ".

Bidadari Kecil

Aku menatap dari kejauhan,

Dari balik keramaian taman,
Ketika dia sedang serius bercengkrama dengan kawanan burung merpati,
Dan beberapa butir gandum yang dia lemparkan ke arah merpati-merpati itu,
Lewat jemari tangannya yang mungil.

Begitu polos dan bersahaja,
Seperti kertas putih yang belum terbubuhi noda tinta,
Tinta kemunafikan dan kecurangan,
Yang akan (mungkin) dia hadapi esok.

Tawanya yang begitu riang,
Mengalahkan angkuhnya dunia ini,
Mengalahkan kesombongan mentari,
Dan kecongkakan senja.

Dia tak peduli orang-orang di sekelilingnya,
Yang dia tahu dia sedang berbahagia,
Dan aku pun terbawa dalam kebahagiaannya,
... sangat bahagia ...

Biarkan saja begitu,
Tetaplah begitu.

Aku sampai cemburu di buatnya…

Lalu ku coba untuk mendekat,
Berharap ikut menemaninya bermain,
Tapi aku tiba-tiba terbangun,
Sebelum berhasil mendekatinya

Menunggu Janji

Dalam kebimbangan fajar dan petang,
Aku masih menunggu janji malam dan siang.

Untitled

Kini ada banyak pertanyaan,
Seberapa jauh aku sudah melangkah?,
Apa yang sempat diinginkan oleh hati pria kecil sepertiku?,
Pada sedikit usianya yang beranjak menanjak!,
Aku akan mencari tahu...

Bisikan pertanyaan itu kembali menemuiku memekik tajam di telinga,
Mencari jawaban yang entah ada,
Apa yang terpikirkan olehku pun aku tak tahu,
Setahuku, ada banyak pertanyaan kini...

Pertanyaan itu tentang kebahagiaan,
Tentang kehidupan,
Dan tentang makna.
Klise namun berarti,
Klasik namun begitu penting,
Dan belum kutahu jawaban yang benar-benar ada untukku.

Semuanya tentang ada apa dengan kebahagiaan manusia,
Ada apa dengan kehidupanku saat ini,
Ada apa dengan keadaan sekitarku,
Keadaan itu jika tak keberatan kusebut "masyarakat"!

Yah, Masyarakat…
Apakah mereka kesepian tanpa aku?,
Tidak!!!
Siapa bilang?,
Meski tanpa aku, mereka akan tetap berjalan tanpa henti untuk memperhatikan dan menungguku,
Memangnya mereka angkutan kota yang ketika aku menahannya dengan membuat isyarat tangan lalu mereka akan berhenti begitu saja?,
Tidak!!!
Siapa aku?
Tidak seperti itu...
Mereka akan tetap berjalan dengan kecongkakannya tanpa harus mempedulikanku!.

Lalu, dimana harus kutemui kebahagiaan itu?,
Kebahagiaan yang katanya akan tampak nyata ketika dibagi dengan orang lain (?),
Jika tak dibagi, namanya apa?.

Aku tak tahu,

Aku tak tahu apa lagi yang harus kulakukan,
Bersikap apatis?,
Individualistis?,
Bisa???,

Menjadi diri sendiri pun sangat sulit,
Sebab ada sesuatu diluar diriku yang memaksaku untuk keluar dan menjadi inilah itulah dan sebagainya,
Bahkan kadang-kadang aku menjadi sangat naïf,
Bahwa semua ini sudah dikendalikan oleh takdir,
Jika begitu kebahagiaanpun adalah takdir,
Dan sudah ditentukan bagiku.

Tapi ahh...
Jauhkan aku dari pemikiran seperti itu!!!,
Aku dapat menemukan kebahagiaan dengan caraku sendiri,
Dengan bantuan akal dan hatiku,
Pun tubuh masih sanggup mencari,
Mencari arti, makna dan bila perlu memaksa keajaiban datang!!
Dan memberiku sedikit kebahagiaan.

Aku Satu Tubuh Denganmu

Bukan sekedar kata-kata biasa,
Menyembur keluar dari mulutku hari itu,
Menghujam kuat melebihi benda tajam manapun,
Kepadamu yang menemani kehidupanku.

Anehnya (mungkin hanya aku yang merasakannya),
Tak ada gubrisan,
Tak di mengerti,
Atau engkau pura-pura tak mendengar.

Aku ingin bersembunyi setelah itu,
Menghindar dari duniaku sendiri,

Dunia yang tak henti-hentinya kupuja,
Tapi aku berjanji,
Tidak akan pernah lari lagi,
Dari kenyataan yang terpatri.

Aku tetap siap menunggu.

Semoga esok engkau pulih dari ketulian,
Sembuh dari kebutaan,
Dan sadar dari ketidaksadaran,
Bahwa kita tidak sedang baik-baik saja.