Malam ini, tak sengaja kulihat kembali koleksi youtube, ditengah hati yg makin keras atau bebal akan peringatan Allah.
Coba-coba untuk merefleksi kembali perjalanan diri, rupanya diri ini tambah menjadi tak jelas, kehilangan bentuk. Tengah malam ini kucoba untuk merekonstruksikan kembali diri. Ya Allah makin kau beri nikmat makin aku lupa, Ya Allah tengah malam ini kucoba untuk berdoa, Ya Allah dengarkanlah doa hambaMu ini:
Aku minta ampun kepadaMU, Ya Allah
Tuhan sekalian alam
Aku meminta ampun padaMu
dari segala kesalahan & dosa yang kuperbuat
------------------------------ -
Ya Allah berilah daku pengetahuan/ilmu, Tuhanku
dari permohonan & ikhtiarku
maka doaku & permohonanku
menjadi saksi terhadap hajatku
di tengah malam ini aku berdoa dan meminta
di dalam kesenanganku & kesusahanku
Jadikanlah aku seorang hamba, yang dijauhkan dari kefakiran baik harta maupun ilmu
juga keperluan yang mendesak
Ya Allah berilah aku pengetahuan, Tuhanku
dari permohonan & ikhtiarku
wahai Tuhanku, wahai Rajaku
Engkau Maha Mengetahui tentang keadaan ku
dengan apa yg berkesusaian dengan hatiku
dari kedukaan & kebimbangan
Tolonglah daku dgn lemah lembut
wahai Tuhanku yg Maha Kuasa
& yg Maha Memperkenankan
ya Tuhan yg Maha Mengetahui
dan yg Maha Mendengar
Sesungguhnya aku mengakui akan kelemahanku
dikarenakan kerendahan & kehinaan ku
Dikaulah Yg Maha Memiliki,
Aku berserah padaMu
Senin, 17 Mei 2010
Refleksi tengah malam
Belaian sayang
Waktu hujan turun
Rintik perlahan
Bintang pun menari
Awan menebal
Kutimang si buyung
Belaian sayang
Anakku seorang
Tidurlah tidur
Ibu menjaga
Ayah mendoa
Agar kau kelak
Jujur melangkah
Jangan engkau lupa
Tanah pusaka
Tanah air kita
Indonesia
Mencari, Memahami dan memaknai
Hidup adalah arti
arti harus dicari
dengan mencari
Mencari arti Membuatmu Hidup
Maka Carilah arti dalam Hidupmu
Setelah Kau temukan, pahamilah
Memahami arti hidup, akan temukan Hidup
Jangan Berhenti dengan memaknai hidup,
Maknai Hidup, Maka akan temukan sebuah hidup yang serasi
penuh dan seimbang
Apa makna Kehidupan?
Hidupmu bukan untukmu sendiri
hidupmu untuk memberi arti hidup pada orang lain
itulah makna kehidupan manusia
(Mungkin surga ada didalamnya)
Abcission
Desir angin merambat lambat tajam,
Menyisir aroma tubuh yang hampir layu,
Mereka mudah menemukan kita,
Tak usah lari darinya.
Sesekali naik lalu menukik turun perlahan,
Kadang tiba-tiba menyebarkan kesedihan,
Seperti gurun
Cobalah raba anginnya!
Menelan buta segala disekelilingnya,
... apapun itu ...
Semuanya,
Tanpa terkecuali.
Tak kukira secepat kedip mata sampai pada kita,
Padahal belum tepat untuk musimnya,
Seharusnya gugur daun masih terlampau jauh,
Atau jangan pernah datang.
Walau masih ingin menghijau,
Menggugur adalah pilihan,
Bagai pahlawan? Mungkin saja,
Meskipun harus berpisah dengan yang lain,
… tapi tak jauh …
Agar kehidupan terus berlanjut.
Lilin
Mungkin aku tak mampu mengusir gelap ini,
Tapi dengan nyala nan redup ini,
Kuingin tunjukkan beda gelap dan terang,
Kebenaran dan kebatilan,
Orang yang menatap cahaya,
Meski temaram,
Kan menyala terang di hatinya yang dalam.
Lelaki dan Senja
Hari-hari itu semakin menjauh,
Terbawa angin yang masih melabuh,
Di tengah
Dan sepucuk janji pada kekasih saat senja memudar.
Ia harus merelakan perginya,
Meskipun ia masih ingin memilikinya,
Namun ketentuan senja berkata lain,
Sang kekasih takkan menjawab rindunya.
Sekejap waktu terus mengalir,
Betapa berharganya pun sedetik,
Seolah surga tak lagi berada dikemudian dunia,
Tapi disini di tengah dermaga romansa.
Lelaki itu hanya mampu terus berjanji,
Untuk sedapatnya membawa kembali,
Di hari kala terakhir ia melihatnya,
Sebelum perempuannya hilang bersama senja,
Semoga kini engkau menemukannya,
Setelah terlalu lama engkau terkenang,
Mimpimu tlah engkau dapati,
Selamat jalan, Temukan ia di dunia kebadian.
Eksistensi
Semua akan terbiasa,
Cepat atau lambat hanya persoalan waktu,
Seperti itulah cara kerjanya,
Sebelum menatap kesempurnaan.
Bukan sebuah pekerjaan mudah,
Langkah demi langkah walau harus tertatih,
Terkadang harus memaksa untuk berlari,
Sepanjang tetap terus melangkah.
Lingkaran yang tak pernah terputus,
Bak roda yang senantiasa berputar,
Lalu kembali berulang-ulang lagi,
Seperti sebuah siklus yang ku sebut kehidupan.
Jiwa-jiwa yang hilang (tersesat),
Tak akan sanggup menemukan cahayanya,
Tanpa mencoba mencari sumber dari cahaya itu,
Agar jiwa yang menempati jasad ini semakin identik dengan-Nya.
Akhirnya "ketiadaan" (ada itu sendiri) memanggil,
Lalu semua tiba-tiba berhenti,
Hanya antara aku dan diriku,
Satu lawan satu!!!
Hingga panggilan lain menjemput untuk berkumpul dikeabadian...
Syair Munajat : Tak Berdaya
Ketika malam pekat semakin mendalam,
Aku masih merasa betapa siang menguasai,
Mungkin karena kamu.
Apakah dengan sengaja kau menggenggam jiwaku?
Membuatku sesak tak berdaya,
Lalu tak peduli kau hantamkan ke tanah,
Sampai air mukaku tak terkendali malu.
Pernah pula kau menenggelamkanku dalam lubang yang dalam,
Hingga aku tak tahu harus berbuat apa,
Serius! Kamu serius,
Itu benar-benar terjadi padaku.
Kini semuanya dapat terlihat jelas,
Aku dan kamu seperti itu.
Aku
Adalah bintang yang tak bercahaya,
Adalah musik yang tak bernada,
Adalah berlian yang tak berkilau,
Adalah ombak yang tak berbuih,
Dan aku,
Adalah sang pemimpi yang selalu terjaga.
Terserahlah
Aku baik-baik saja sebelum kau ucapkan kata itu,
Bahkan lebih baik dari hari kemarin,
Ketika sedih dan sepi kembali menyerang dari segala sisi,
Aku kira kamu tahu itu.
Selasa, 13 April 2010
Lirih
Seperti saat lalu,
Ketika asa semakin lirih,
Dingin ikut-ikutan memilu,
Tergeletak tak terperih.
Ujung nafas yang kesakitan,
Kutarik lagi!
Meski tadi sempat terbuang,
Aku takut tak kembali.
Biar penat tak mengikuti,
Aku ingin tetap bernyanyi,
Melodi sendu biar pula,
Daripada harus ternganga.
Telah nyata terungkapkan,
Namun ku tepis berkali-kali,
Mudah-mudahan tak bosan-bosan,
Senyuman itu mengalir.
Kadangkala ada air mata,
Hari ini tidak akan!!!
Walau telah lama meronta,
Dan mencoba membutakan.
Sahabat Sahabatku,
Kita akan berlalu,
Semoga sampai nanti.
Televisi
Hey!! apa yang sedang kamu lakukan?
Kamu bertingkah lagi,
Dasar tak punya ideologi!
Kalaupun ada, ideologi apa??!!
Pasar???
Memangnya pasar itu sebuah ideologi?
Pasar pun memiliki pilihan ideology,
Setidaknya begitu,
Entahlah...
Aku sudah muak!!
Menjengkelkan,
Setiap hari begitu terus,
Adakah yang bisa menghentikanmu??
Jawab aku!!!
Siapa juga yang bisa menghentikan kamu,
Mereka sudah terbuai,
Katanya oleh kesenangan tiap saat,
Kamu begitu meraja,
Di sini.
Subuh,
Sangat religius.
Pagi,
Lelucon bangsa.
Siang,
Drama negeri dalam dramaturgi politik dan budaya.
Sore,
Kombinasi melankolis dan derita.
Malam’
Kompleks.
Tengah malam,
Cabul.
Hendak kemana kita??
Terserah.
Pilihannya ada banyak,
Tergantung selera hegemonisnya yang mana.
Seksualogika
Jika kau memintaku untuk menyimpannya,
Aku bersedia melakukannya,
Biar tetap kusimpan sampai tiba masanya,
Meskipun lama.
Aku juga tak pernah berfikir untuk meraihnya,
Apalagi harus mencobanya,
Sementara dia pun masih begitu,
Tertutup rapat berharap ada yang membukanya.
Ketakutan mungkin pula ikut mendera,
Atau perasaan lain yang berusaha mencengkeramku,
Untuk tetap tinggal diam tak berbuat,
Jangan-jangan ketika kubuka, tak ada kamu disana.
Berat
Kita tak bisa lagi terus berlari,
Berjalan pun harus tertatih
Masih ada jejak kaki yang kita tinggalkan,
Dari tapak-tapak cerita lama,
Dan aku masih di belakangmu untuk mengejar,
Sebab masih ada beberapa serpihan yang belum kita selesaikan.
Aku menahanmu pergi,
Untuk menyelesaikan cerita itu.
Puisi Etnografi; Luka Sebuah Negeri
Masihkah kau huni ebe-ae yang dulu ?
Masihkah kau urusi wamdabu,
Amanat adat atas keperempuananmu,
Untuk memenuhi kewajiban upacara,
Atawa membayar mahar,
Manakala suami kawin lagi,
Masihkah ?...
Itulah yang menyebabkanku luka,
Mengiringi jabatan tanganku,
Kala pamitan meninggalkan Kurulu,
Meninggalkanmu yang melengos tersipu...
Belakangan,
Di penghujung abad ini,
Lagi-lagi tersiar kabar kalian tertangkar musibah lapar,
Ya ampun, Lapar!...
Scavengers
Dikerutan lingkar wajahmu,
Telah terbiasa terkoyak dilema hari,
Di sana masih ada tersisa sebongkah semangat membara,
Meski tak setiap waktu kau bakar,
Nyalanya tak pernah redup,
Tak pernah padam,
Seperti api di kuil-kuil zoroaster,
Sampai datang sang penyelamat kehidupan,
Bedanya, Kau tak pernah menunggu seseorang untuk menyelamatkanmu.
Pintu Tanpa Kunci
Sudah berakhir,
Pintu itu tak akan pernah terbuka olehku,
Kecuali aku harus menggali sampai ke dasar bumi,
Untuk mencari kunci yang telah ku buang jauh-jauh,
Dan itu mustahil bagiku.
Titik!!!
Antara Kunci dan Pintu (IV)
Aku masih mencoba merenungi bisikan-bisikan itu,
Sambil memikirkan dimana kunci yang tepat itu tertinggal,
Lalu secara mengejutkan dan tak kusangka-sangka,
Beberapa kawan menghampiriku,
Spontanitasku bertanya kepada mereka : "apakah kalian sumber suara-suara bingar itu?"
Aku tahu Sang Pencipta mencipta berpasang-pasangan,
Aku pikir segalanya seindah keajaiban itu,
Begitu pun antara kunci dan pintu,
Tapi tak kusangka ada pintu yang tak memiliki kunci,
Lalu (lagi) kutanyakan kepada mereka : "benarkah pintu ini tak memiliki kunci?"
Mereka diam saja,
Hanya keheningan yang menggelora.
Lalu (sekali lagi) aku bertanya,
Pertanyaan yang sama,
Namun melodinya tidak selembut tadi,
Dan tiba-tiba semua menoleh kearah pintu yang lain,
Kemudian secara bersamaan berteriak : "...itulah pintu yang kau tuju!!!"
............
Kusambut teriakannya dan berkata : "tapi kuncinya telah kubuang..."
Antara Kunci dan Pintu (III)
Membekas jelas dibenakku,
Kalimat singkat mengusik naluri,
Seolah itu harapan besar bagiku,
Dan satu-satunya kenyataan yang tak pernah terjadi.
Apa yang telah kulakukan,
Aku melukai diriku sendiri,
Dengan sayatan tipis yang akan menganga,
Hanya karena emosi yang membuta.
Kini dengarkan aku,
Aku tak mau lagi mendengarkan bisikmu,
Serta suara-suara bingar yang menggema di luar sana,
Terlalu membingungkan! Menyesatkan pula.
Siapapun kau (atau apapun kau),
Aku tak sanggup lagi meneruskan,
Permainan yang kita mulai,
Tentang kunci dan pintu.
Maka jika kau memiliki kunci itu,
Bantu aku untuk membukanya,
Sebab nafasku sudah tak ada lagi,
Untuk mencoba meraih pintu-pintu yang lain.
Antara Kunci dan Pintu (II)
Tanganku gemetaran pula,
Peluh kian melumuri tubuh,
Sejenak seolah semua berhenti.
Raut wajahku kembali beraksi,
Mataku tak mampu berlama-lama menyaksi,
Aku tak tahan ingin segera keluar dari sini,
Meninggalkan kenyataan yang tak berpihak.
Pintu telah terlanjur kubuka lebar,
Aku terkejut setengah mati,
Menatap kekosongan yang terjadi,
Dan benar tak ada orang disana,
Tidak ada penyesalan lagi.
Bawakaraeng
Dalam cahaya yang masih teramat remang,
Siapa tahu esok tak bisa ku dapati seonggok terang,
Padahal aku masih memuja langit permaisuri anging mamiri,
Tepat di kaki bukit bawakaraeng.
Rabu, 07 April 2010
Antara Kunci dan Pintu
Mungkin karena terlalu terbiasa.
Tetapi,
Tak cukup menjelaskan bagaimana itu terjadi.
Sempat pula kudengar,
Karena alasan tak ada pilihan lain.
Namun,
Terlalu klise kurasa.
Pada kesempatan lain,
Ada yang berceloteh (entah karena keisengan saja),
Semua,
Karena takdir yang telah ditentukan.
Aku punya argumen lain,
Pastinya cukup kuat,
" Alunan hampa mengajak kita bernyanyi ".
Bidadari Kecil
Aku menatap dari kejauhan,
Dari balik keramaian taman,
Ketika dia sedang serius bercengkrama dengan kawanan burung merpati,
Dan beberapa butir gandum yang dia lemparkan ke arah merpati-merpati itu,
Lewat jemari tangannya yang mungil.
Begitu polos dan bersahaja,
Seperti kertas putih yang belum terbubuhi noda tinta,
Tinta kemunafikan dan kecurangan,
Yang akan (mungkin) dia hadapi esok.
Tawanya yang begitu riang,
Mengalahkan angkuhnya dunia ini,
Mengalahkan kesombongan mentari,
Dan kecongkakan senja.
Dia tak peduli orang-orang di sekelilingnya,
Yang dia tahu dia sedang berbahagia,
Dan aku pun terbawa dalam kebahagiaannya,
... sangat bahagia ...
Tetaplah begitu.
Aku sampai cemburu di buatnya…
Lalu ku coba untuk mendekat,
Berharap ikut menemaninya bermain,
Tapi aku tiba-tiba terbangun,
Sebelum berhasil mendekatinya
Untitled
Seberapa jauh aku sudah melangkah?,
Apa yang sempat diinginkan oleh hati pria kecil sepertiku?,
Pada sedikit usianya yang beranjak menanjak!,
Aku akan mencari tahu...
Bisikan pertanyaan itu kembali menemuiku memekik tajam di telinga,
Mencari jawaban yang entah ada,
Apa yang terpikirkan olehku pun aku tak tahu,
Setahuku, ada banyak pertanyaan kini...
Pertanyaan itu tentang kebahagiaan,
Tentang kehidupan,
Dan tentang makna.
Klise namun berarti,
Klasik namun begitu penting,
Dan belum kutahu jawaban yang benar-benar ada untukku.
Semuanya tentang ada apa dengan kebahagiaan manusia,
Ada apa dengan kehidupanku saat ini,
Ada apa dengan keadaan sekitarku,
Keadaan itu jika tak keberatan kusebut "masyarakat"!
Yah, Masyarakat…
Apakah mereka kesepian tanpa aku?,
Tidak!!!
Siapa bilang?,
Meski tanpa aku, mereka akan tetap berjalan tanpa henti untuk memperhatikan dan menungguku,
Memangnya mereka angkutan kota yang ketika aku menahannya dengan membuat isyarat tangan lalu mereka akan berhenti begitu saja?,
Tidak!!!
Siapa aku?
Tidak seperti itu...
Mereka akan tetap berjalan dengan kecongkakannya tanpa harus mempedulikanku!.
Lalu, dimana harus kutemui kebahagiaan itu?,
Kebahagiaan yang katanya akan tampak nyata ketika dibagi dengan orang lain (?),
Jika tak dibagi, namanya apa?.
Aku tak tahu,
Aku tak tahu apa lagi yang harus kulakukan,
Bersikap apatis?,
Individualistis?,
Bisa???,
Menjadi diri sendiri pun sangat sulit,
Sebab ada sesuatu diluar diriku yang memaksaku untuk keluar dan menjadi inilah itulah dan sebagainya,
Bahkan kadang-kadang aku menjadi sangat naïf,
Bahwa semua ini sudah dikendalikan oleh takdir,
Jika begitu kebahagiaanpun adalah takdir,
Dan sudah ditentukan bagiku.
Tapi ahh...
Jauhkan aku dari pemikiran seperti itu!!!,
Aku dapat menemukan kebahagiaan dengan caraku sendiri,
Dengan bantuan akal dan hatiku,
Pun tubuh masih sanggup mencari,
Mencari arti, makna dan bila perlu memaksa keajaiban datang!!
Dan memberiku sedikit kebahagiaan.
Aku Satu Tubuh Denganmu
Bukan sekedar kata-kata biasa,
Menyembur keluar dari mulutku hari itu,
Menghujam kuat melebihi benda tajam manapun,
Kepadamu yang menemani kehidupanku.
Anehnya (mungkin hanya aku yang merasakannya),
Tak ada gubrisan,
Tak di mengerti,
Atau engkau pura-pura tak mendengar.
Aku ingin bersembunyi setelah itu,
Menghindar dari duniaku sendiri,
Dunia yang tak henti-hentinya kupuja,
Tapi aku berjanji,
Tidak akan pernah lari lagi,
Dari kenyataan yang terpatri.
Aku tetap siap menunggu.
Semoga esok engkau pulih dari ketulian,
Sembuh dari kebutaan,
Dan sadar dari ketidaksadaran,
Bahwa kita tidak sedang baik-baik saja.
Kamis, 18 Maret 2010
Dunia Itu
Sejak kapan dingin itu mulai merapuh?,
Pada serpih-serpih kepura-puraan,
Dan menghamburkan luapan pesan-pesan rasa yang tak jelas.
Seperti tapak-tapak kaki yang ditinggalkan oleh langkah yang berlalu,
Seperti teks-teks yang keluar dan berganti-ganti makna,
Dan seperti angin yang terus mengikuti pusaran kehidupan,
Lalu lenyap entah kemana.
Aku masih disini dalam keterasingan,
Jauh dari dunia yang ku kenal,
Dunia dengan dramaturgi politik dan budaya,
Perih menyesakkan dada.
Pada sisi lain,
Masih ada sebagian dari jiwa-jiwa yang merindukannya,
Dan berusaha untuk menarikku kembali,
Dalam lubang hitam dunia itu.
Ditengah itu,
Kecongkakan dunia yang menganga teramat besar,
Aku akan tertidur entah sampai kapan,
Sambil menunggu semua yang kukatakan kepadamu tak ada lagi.
Kalau harus berakhir, berakhirlah!
Agar tak ada lagi yang berani menggangguku.
Menangis
Menahan luka yang masih membekas,
Menuruti kemauan raga,
Dan senyap kini tak terlihat.
Aku, kamu, dia dan semua,
Hanya tinggal menunggu waktu,
Untuk tiba dan menyergapmu
,Merasakan betapa tidak terperinya.
Terhenyak pula memandangnya sekejap,
Setitik demi setitik namun pasti,
Melangkahkan kaki yang semula hanya diam,
Menutup diri.
Meraung,
Terus meraung,
Melemparkan keluar emosi jiwa,
Agar orang-orang tahu.
Aku menangis....
Rabu, 17 Maret 2010
Keangkuhan Ini
Dalam keangkuhanku,
Dan jubah sepi menyelimuti.
Pertautan waktu membawaku menyelami seisi diri,
Untuk mencoba mengerti,
Bahwa terkadang menjadi angkuh membuatku merasa tenang,
Meskipun kesepian terus saja menjadi bayang-bayang gelap.
Tapi itu tak penting!
Yang penting adalah penerimaan "dunia",
Duniaku,
Bukan dunia mereka,
Yang selalu merasa mengenalku,
Padahal tidak, tak pernah!!!.
Bukankah mereka tidak akan pernah (benar-benar) mengenalku?,
Karena tidak akan ada yang pernah (benar-benar) mengenal diriku selain aku sendiri.
Dalam keangkuhan ini,
Mereka tak mampu membunuhku.
Mengejarku sampai kapan waktu,
Tak akan pernah sanggup,
Apalagi untuk menggapaiku,
Sementara aku akan terus menjauh.
Terasa sulit,
Dan begitu sulit
Mengobati keangkuhan ini.
( ku persembahkan untuk keegoisan ini, wahai keegoisanku!!! Kelak engkau akan membunuhku ).
Minggu, 14 Maret 2010
Romansa
Aku tak memintamu menjadi air,
Untuk sekedar menjadikan tenggorokanku lepas dahaga,
Tak pernah pula ku memintamu menjadi sayapku,
Hingga aku dapat terbang ke angkasa.
Semua yang ku minta tidak sehebat itu kekasihku.
Aku hanya ingin menjadikan dirimu,
Pengisi ruang kosong diantara belahan jantungku,
Pelengkap repihan permata di sepenuh dadaku,
Serta penopang sisa nafas batinku.
Aku pikir itu tak sesulit yang engkau bayangkan.
Aku akan selamanya kehausan tanpamu,
Merasakan dahaga cinta tiada henti,
Aku akan selamanya mendongak ke atas langit,
Menatap merpati-merpati yang terbang lepas bahagia.
Jika tak ada kau menemani persinggahan hidupku.
Hidupku adalah rangkaian kisah dari dirimu,
Aku terbatas pada kesediaanmu memberikanku kebahagiaan,
Engkau dan aku adalah satu,
Aku dan engkau adalah kita.
Jangan lagi kau ingkari itu.
Untuk Dia
Apakah hanya aku yang merasakannya??
Tersambut bulan sabit merah dan senja sore kelabu,
Di antara bibir pantai Dewi,
Masih tetap sama dan seperti hari-hari lain yang akan berganti.
Aku tahu kau akan datang dan mendengarku bernyanyi disini,
Senandung keresahan hati.
Aku masih berharap hati ini semerah bulan sabit itu,
Bukan seperti senja sore kelabu yang menampakkan wajah muramnya langit.
Aku akan bernyanyi lagu tentang kita,
Senyawa dan Sejiwa,
Lagu yang akan membuatmu tersenyum sepanjang hari,
Hingga engkau lupa pahit kelamnya hidup ini.
Tertawa adalah bagian paling indah dari dirimu,
Aku senang melihatmu seperti itu.
Terus saja seperti itu kekasihku,
Teruslah tertawa dan ikut bernyanyi denganku.
Aku masih merasakan betapa lembut dan hangatnya tanganmu,
ketika membelai pipiku dan mengelus rambutku tatkala aku sedang melamun.
Terus saja seperti itu kekasihku,
Teruslah membelai dan mengelusku sepanjang waktu.
Bila esok yang kunanti telah tiba,
Dan bayang-bayangmu menjelma menjadi sepasang sayap malaikat cinta,
Lalu membisikkan ke kedua telinga tentang kalimat-kalimatnya,
Bahwa kita berdua adalah satu,
Tidak akan berpisah lagi sepanjang kita masih terus menjaganya.
Bulan
Bulan penuh !!"
Seringkali Engkau berteriak begitu kegirangan ketika memandangnya, beruntung saja telingaku yang sudah mulai tua masih jelas mendengarnya. Engkau menyukainya, bulan penuh itu. Entah kenapa, aku masih berfikir, tak pernah Engkau mengatakan alasannya padaku, bahkan meskipun aku menanyakannya.
Satu-satunya dugaanku saat ini adalah karena Engkau berharap kita berdua dapat menjelma menjadi sepasang kunang kunang (seperti di depan rumah waktu itu) jika terkena cahayanya, terus memancar cahayanya mengalahkan pekatnya malam.
Sebetulnya, aku lebih berharap kita berubah menjadi bintang-bintang gemerlap yang menemani bulan bercahaya, agar kita tak hanya mengaguminya dari kejauhan, tapi ikut serta membantunya menghiasi malam-malam dengan cahaya kerlap-kerlip mempesona semesta, dalam waktu ke waktu.
Tapi...
Aku tiba-tiba tersadar ketika Engkau pun menyukai bulan setengah, bulan sabit dan bulan-bulan yang lain, sehingga aku terkadang berfikir, bahwa mungkinkah di kehidupan yang lalu, Engkau adalah seorang putri bulan...(?) Jika demikian, pertanyaannya adalah mengapa engkau (di)turun(
Kamis, 11 Maret 2010
Dear : My Soulmate
Kembali dalam dekap pelukanku,
Mengulang kisah yang kita jalani kemarin,
Dan memperbaikinya,
Dalam hari-hari yang bahagia.
Kekasihku, Aku ingin menatapmu lebih dekat,
Tidak dari atas beranda imajinasiku saja,
Tetapi didekatmu,
Sebab aku merindukan semuanya.
Akhir akhir ini aku sering memikirkanmu,
Terkadang bayanganmu muncul tepat dihadapanku,
Seolah kau sedang mengajakku berbicara,
Dan kusambut setiap ajakanmu,
Lalu kita berdua larut dalam canda tawa.
..tetapi hanya kita saja yang mengertinya.
Kekasihku, Jangan pergi lagi,
Tetaplah terus bersamaku,
Selama lamanya.
Satu hal yang ingin kusampaikan,
Jika suatu hari nanti kau kembali datang,
Kita memohon padaNya memulai kisah yang baru,
Menjadi manusia baru.
