Kamis, 18 Maret 2010

Dunia Itu

Meringkuh sejenak untuk coba mengerti,
Sejak kapan dingin itu mulai merapuh?,
Pada serpih-serpih kepura-puraan,
Dan menghamburkan luapan pesan-pesan rasa yang tak jelas.

Seperti tapak-tapak kaki yang ditinggalkan oleh langkah yang berlalu,
Seperti teks-teks yang keluar dan berganti-ganti makna,
Dan seperti angin yang terus mengikuti pusaran kehidupan,
Lalu lenyap entah kemana.

Aku masih disini dalam keterasingan,
Jauh dari dunia yang ku kenal,
Dunia dengan dramaturgi politik dan budaya,
Perih menyesakkan dada.

Pada sisi lain,
Masih ada sebagian dari jiwa-jiwa yang merindukannya,
Dan berusaha untuk menarikku kembali,
Dalam lubang hitam dunia itu.

Ditengah itu,
Kecongkakan dunia yang menganga teramat besar,
Aku akan tertidur entah sampai kapan,
Sambil menunggu semua yang kukatakan kepadamu tak ada lagi.

Kalau harus berakhir, berakhirlah!
Agar tak ada lagi yang berani menggangguku.

Menangis

Perih, sesak, tak berdaya,
Menahan luka yang masih membekas,
Menuruti kemauan raga,
Dan senyap kini tak terlihat.

Aku, kamu, dia dan semua,
Hanya tinggal menunggu waktu,
Untuk tiba dan menyergapmu
,Merasakan betapa tidak terperinya.

Terhenyak pula memandangnya sekejap,
Setitik demi setitik namun pasti,
Melangkahkan kaki yang semula hanya diam,
Menutup diri.

Meraung,
Terus meraung,
Melemparkan keluar emosi jiwa,
Agar orang-orang tahu.

Aku menangis....

Rabu, 17 Maret 2010

Keangkuhan Ini

Dalam keangkuhanku,
Dan jubah sepi menyelimuti.

Pertautan waktu membawaku menyelami seisi diri,
Untuk mencoba mengerti,
Bahwa terkadang menjadi angkuh membuatku merasa tenang,
Meskipun kesepian terus saja menjadi bayang-bayang gelap.

Tapi itu tak penting!
Yang penting adalah penerimaan "dunia",
Duniaku,
Bukan dunia mereka,
Yang selalu merasa mengenalku,
Padahal tidak, tak pernah!!!.

Bukankah mereka tidak akan pernah (benar-benar) mengenalku?,
Karena tidak akan ada yang pernah (benar-benar) mengenal diriku selain aku sendiri.

Dalam keangkuhan ini,
Mereka tak mampu membunuhku.

Mengejarku sampai kapan waktu,
Tak akan pernah sanggup,
Apalagi untuk menggapaiku,
Sementara aku akan terus menjauh.

Terasa sulit,
Dan begitu sulit
Mengobati keangkuhan ini.


( ku persembahkan untuk keegoisan ini, wahai keegoisanku!!! Kelak engkau akan membunuhku ).

Minggu, 14 Maret 2010

Romansa

Aku tak memintamu menjadi air,
Untuk sekedar menjadikan tenggorokanku lepas dahaga,
Tak pernah pula ku memintamu menjadi sayapku,
Hingga aku dapat terbang ke angkasa.

Semua yang ku minta tidak sehebat itu kekasihku.

Aku hanya ingin menjadikan dirimu,
Pengisi ruang kosong diantara belahan jantungku,
Pelengkap repihan permata di sepenuh dadaku,
Serta penopang sisa nafas batinku.

Aku pikir itu tak sesulit yang engkau bayangkan.

Aku akan selamanya kehausan tanpamu,
Merasakan dahaga cinta tiada henti,
Aku akan selamanya mendongak ke atas langit,
Menatap merpati-merpati yang terbang lepas bahagia.

Jika tak ada kau menemani persinggahan hidupku.

Hidupku adalah rangkaian kisah dari dirimu,
Aku terbatas pada kesediaanmu memberikanku kebahagiaan,
Engkau dan aku adalah satu,
Aku dan engkau adalah kita.

Jangan lagi kau ingkari itu.

Untuk Dia

Untuk dia sang penawan hati,
Apakah hanya aku yang merasakannya??

Tersambut bulan sabit merah dan senja sore kelabu,
Di antara bibir pantai Dewi,
Masih tetap sama dan seperti hari-hari lain yang akan berganti.

Aku tahu kau akan datang dan mendengarku bernyanyi disini,
Senandung keresahan hati.

Aku masih berharap hati ini semerah bulan sabit itu,
Bukan seperti senja sore kelabu yang menampakkan wajah muramnya langit.

Aku akan bernyanyi lagu tentang kita,
Senyawa dan Sejiwa,
Lagu yang akan membuatmu tersenyum sepanjang hari,
Hingga engkau lupa pahit kelamnya hidup ini.

Tertawa adalah bagian paling indah dari dirimu,
Aku senang melihatmu seperti itu.

Terus saja seperti itu kekasihku,
Teruslah tertawa dan ikut bernyanyi denganku.

Aku masih merasakan betapa lembut dan hangatnya tanganmu,
ketika membelai pipiku dan mengelus rambutku tatkala aku sedang melamun.
Terus saja seperti itu kekasihku,
Teruslah membelai dan mengelusku sepanjang waktu.

Bila esok yang kunanti telah tiba,
Dan bayang-bayangmu menjelma menjadi sepasang sayap malaikat cinta,
Lalu membisikkan ke kedua telinga tentang kalimat-kalimatnya,
Bahwa kita berdua adalah satu,
Tidak akan berpisah lagi sepanjang kita masih terus menjaganya.

Bulan

Bulan penuh !!"
Seringkali Engkau berteriak begitu kegirangan ketika memandangnya, beruntung saja telingaku yang sudah mulai tua masih jelas mendengarnya. Engkau menyukainya, bulan penuh itu. Entah kenapa, aku masih berfikir, tak pernah Engkau mengatakan alasannya padaku, bahkan meskipun aku menanyakannya.

Satu-satunya dugaanku saat ini adalah karena Engkau berharap kita berdua dapat menjelma menjadi sepasang kunang kunang (seperti di depan rumah waktu itu) jika terkena cahayanya, terus memancar cahayanya mengalahkan pekatnya malam.

Sebetulnya, aku lebih berharap kita berubah menjadi bintang-bintang gemerlap yang menemani bulan bercahaya, agar kita tak hanya mengaguminya dari kejauhan, tapi ikut serta membantunya menghiasi malam-malam dengan cahaya kerlap-kerlip mempesona semesta, dalam waktu ke waktu.

Tapi...
Aku tiba-tiba tersadar ketika Engkau pun menyukai bulan setengah, bulan sabit dan bulan-bulan yang lain, sehingga aku terkadang berfikir, bahwa mungkinkah di kehidupan yang lalu, Engkau adalah seorang putri bulan...(?) Jika demikian, pertanyaannya adalah mengapa engkau (di)turun(kan) ke bumi sayangku??

Kamis, 11 Maret 2010

Dear : My Soulmate

Cepatlah kemari kekasihku,
Kembali dalam dekap pelukanku,
Mengulang kisah yang kita jalani kemarin,
Dan memperbaikinya,
Dalam hari-hari yang bahagia.

Kekasihku, Aku ingin menatapmu lebih dekat,
Tidak dari atas beranda imajinasiku saja,
Tetapi didekatmu,
Sebab aku merindukan semuanya.

Akhir akhir ini aku sering memikirkanmu,
Terkadang bayanganmu muncul tepat dihadapanku,
Seolah kau sedang mengajakku berbicara,
Dan kusambut setiap ajakanmu,
Lalu kita berdua larut dalam canda tawa.

..tetapi hanya kita saja yang mengertinya.

Kekasihku, Jangan pergi lagi,
Tetaplah terus bersamaku,
Selama lamanya.

Satu hal yang ingin kusampaikan,
Jika suatu hari nanti kau kembali datang,
Kita memohon padaNya memulai kisah yang baru,
Menjadi manusia baru.

Rabu, 10 Maret 2010

Tak Perlu

Cintamu yang tertinggal di masa yang lalu,
Tak usah setengah mati mencarinya,
Aku berjanji akan menggantinya dengan yang baru.

Tentang Kita

Takku bayangkan jika aku sang pencipta langit,
Akan ku tata kelap kelip bintang hingga terukir namamu.
Tak kubayangkan jika aku sang pencipta bumi,
Akan ku buat satu benua tempat peraduan kita.

Tak kubayangkan jika selamanya kumiliki hatimu,
Karena langit dan bumi akan menjadi milik kita berdua.
(yang lain ngontrakkkkkkkkkkkkk............... hahahahahahaha)

Senyawa dan Sejiwa

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah,
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza,
Tapi, aku ingin habiskan waktuku di sisimu, sayangku.

Berbicara tentang boneka boneka kita yang nakal dan lucu,
Atau tentang ombak ombak yang indah di di pantai yendidori.
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Afganistan,
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Afrika Selatan,
Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku,
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya,
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu.

Mari sini, sayangku,
Mengingat hari yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati pada kita,
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung,
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa,
Bila kita senyawa dan sejiwa.

Sebuah Tanya

Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa,
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui.
Apakah kau masih selembut dahulu,
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap,
Sambil membenarkan letak leher kemejaku.

Kabut tipis pun turun pelan-pelan di pantai kasih,
Pantai yendidori.
Kau dan aku tegak berdiri,
Menatapi hamparan laut yang membiru,
Meresapi belaian ombak yang menjadi dingin.

Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu,
Ketika kudekap, kau dekaplah lebih mesra,
Lebih dekat.
Apakah kau masih akan berkata,
Kudengar detak jantungmu.

Kita begitu berbeda dalam semua,
Kecuali dalam cinta.

Aku Ingin Pulang

Entah apa yang berbisik di telingaku,
Untuk segera menghampiri dirimu,
Dengan sadar ku pandangi matamu dalam-dalam,
Hingga aku bagai menyatu dengan batinnya,
Engkau pun merasa begitu.

Ada setumpuk kerisauan membelenggumu,
Berputar-putar tersesat,
Tak tahu ingin kemana,

Dan tak mampu Engkau sampaikan lewat kata-kata,
Namun cahaya di matamu yang berbicara,
Kerinduan ini tak tertahankan.

Aku ingin pulang,
Untuk kerinduanku.

( kupersembahkan untuk dindaku, rindu ini selalu terjaga untukmu, meski tak ada isyarat kata ).

Cinta Bukanlah Karena

Karena Cantik,
Karena Harta,
Karena tahta,
Itu Bukanlah Cinta.

Karena dia baik,
Karena dia perhatian,
Karena dia juga cinta,
Itu Bukanlah Cinta.Karena..
Karena..
Karena..
Itu bukan cinta!


Cinta adalah walaupun,
Walaupun dia bukan siapa-siapa,
Walaupun dia tak punya apa-apa,
Walaupun dia tak berbalas cinta.
Walaupun..
Walau apa pun..

Kita masih tetap cinta,
Dan selamanya akan memberi cinta.

Semangat

Tak bersayap,
Tak berakal,Terbang tinggi,
Riuh rendah,
Atau tenggelam,Namun tak pernah mati,Setahuku,
Itu yang kau percaya !

Selasa, 09 Maret 2010

Kepada Chairil Anwar

Chairil Anwar
Kau yang terkoyak koyak sepi
Terkubur tertimbun sajak sajak
Kau Yang Bernyanyi sendiri dalam keranda kesunyian
Biarkan aku menjadi titisanmu.

Sajakmu setegar karang
Bunga mekar tertawa karenamu
Reruntuhan Megah, Lembah meninggi
Samudra mengudara, Bumi jadi bintang gemintang
Biarkan aku meneruskan bait baik kehidupanmu

Mereka yang rindu padamu
Tersungkur keok di balik batu
Terlenggak lenggok mata sendu
Titar tumitar kaki langkahnya
Biarkan aku menjadi titisanmu

Kujadikan mereka pemimpi dunia
Mengaduh menangis rindu padamu.
Aku Ingin seperti katamu, Badai menggelepar
Menyibak segala debu, Menghempas rejang.

Aku ingin seperti jiwamu
Sungai beriak tenang
Mengikis dasar ke hulu
Menghanyut pupus

Aku ingin seperti dirimu
Laut maha dalam
Memberkas segala nyata
Menista bahagia.

Kurnia bahagia
Kecil setumpuk
Izinkan aku menjadi titisanmu.

Minggu, 07 Maret 2010

Ku Usaikan Malamku

Ketika malam telah menyiapkan pentas untuk bintang menari
Justru telah kumasuki peti kematian dalam duka dan rasa sesak
Lantunan musik pengiring para bintang bertalu talu
Namun aku justru menangis dalam hati dibalik senyumku
Rasa terkhianati dan tertipu oleh sang kekasih alam

Rasa cemburu akan kepergiannya yg tak terungkap oleh semua kita
Beku melangkah dengan gagah menuju singgasana kematian yg bernama cinta
Iring iringan bak seorang raja yg baru naik tahta mengantarku dengan gembira
Wangi wangian dari beraneka macam bunga menemaniku menuju singgasana
Dayang dayang menyambutku dengan tawa dan canda…
Dan aku terduduk di singgasana yg bernama cinta, di peti matiku

Kemarahan,kebencian semakin menggelora dan memana
Sisi kepalaku hanya berisi prasangka prasangka tentang cinta yg absurd
Dan semakin bertambah rasa itu pada setiap detak nafasku
Kecurigaan, kecemburuan semakin membesar dan menjadi jadi

Bayangan ketika mata terbuka membuat rasa sakit semakin terasa pedih
Dan semakin bertambah rasa itu pada setiap detak jantungku
Iring iringan telah pergi,
Dayang dayang telah pulang,
Wangi wangian telah menguap
Tapi aku masih berada di tempatku,
Singgasana kematian bernama cinta

Ketika malam telah usai bersama datangnya panggilan untuk-Mu
Bintang bintang perlahan menunduk untuk mundur dari pentas
Bunyi bunyian pengiring telah berhenti
Aku masih tetap menangis dalam hati dibalik senyumku

Telah kuterima semua rasa menyakitkan tentang cinta yg tak kukenal
Matahari telah terbit dan sang kasih telah menunggu untuk melangkahtapi aku masih berada di Singgasana kematian yg bernama cinta itu
Singgasana yg pada siang berubah menjadi sebuah kutukan atma
Aku menunduk sepi tapi tetap tersenyum,dan rasa itu kusembunyikan

Kutatap Sang Esa pada ciptaannya untuk berteriak tentang takdirku pada cinta
Dan dia diam,hanya sebuah isyarat untuk survive dan nrimo pada garis tangan hidupkusenja telah datang, pentas kembali di bangun, check sound untuk para penari telah bersuara
Bintang bintang telah datang berdiri menempatkan diri untuk menari
Dan aku,melangkah dengan gagah menuju peti kematian bernama cinta

Kami Yang Menangisi Takdir

Kau yang menyerupai roh semesta ini
Adalah jiwa kami,
namun Kau senantiasa lari dari kami
Melalui seruling kehidupan
Kau tiupkan lagu

Hidup ini akan iri pada mati jika mati demi Kau
Sekali Ilahi hibur hati kami yang sedih ini
Tinggallah dalam hati kami sekali lagi
Dengar seruan-Mu melalui jiwa kami
Teguhkan cinta kami yang lemah ini
Terlalu sering kami ini menangisi Takdir

Kau Maha Mulia sedang kami begitu hina
Dari tangan hampa ini jangan sembunyikan wajah-Mu
Beri kami karunia Cinta Salman dan Bilal
Beri kami lagi kefitrian air yang cemerlang
Jadikan kembali kami pemikul ayat-ayat-Mu
Agar musuh dapat kami kalahkan seperti dulu

Mengapa Cinta Itu Tak Jua Menetap

Akhirnya, tanpa kusadari, bulir-bulir air mata mulai membasahi wajahku. Aku sudah tidak ingat lagi, kapan terakhir aku menangis di atas sajadahku. Aku sering sekali merindukan hadirnya malam-malam seperti ini, malam dimana Engkau hadirkan cintaMu dalam relung hatiku. Ketika cinta itu begitu mengelora, dia berwujud menjadi tetesan-tetesan air mata, membentuk sungai kecil, mengalir perlahan sebelum akhirnya jatuh dan membasahi tempat aku bersujud padaMu. Namun entah mengapa cinta yang mengelora tadi cepat berlalu seakan dia tidak ingin menyatu dan menetap di hatiku.

" Tuhan leraikanlah dunia
Yang mendiam di dalam hatiku
Karena di situ tidak ku mampu
Mengumpul dua cinta
Hanya cinta-MuKu harap tumbuh
Dibajai bangkai nafsu yang kubunuh "
( diantara dua cinta, Raihan)

Di usiaku yang terus luntur tertelan zaman, mengapa cintaMu tak jua mau menetap di relung hatiku? Ataukah memang tidak mungkin mengumpulkan dua cinta dalam satu hati? Ketika aku masih berharap pujian dan aplausan tepuk tangan manusia, cinta-Mu pergi. Ketika aku berharap posisi dan gengsi kedudukan di hadapan manusia, cinta-Mu segera meninggalkanku. Ketika aku menunda urusanKu padamu karena urusan duniaku yang tiada mengenal waktu, cinta-Mu tidak lagi mau menunggu. Ketika pandanganku terpesona dengan mahluk ciptaanMu padahal kutahu pandangan itu tidak sah bagiku, cinta-Mu meninggalkanku terburu-buru. Ketika tanganku masih terasa agak berat melepaskan lembaran-lembaran biru untuk berinfaq dijalanMu, padahal kutahu bahwa lembaran-lembaran itu juga pemberianMu, cinta-Mu segera berpaling dariku.
" Laa ilaaha illa anta
subhaanka inni kuntu minaz zaalimeen
Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau
Maha suci Engkau,
Sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim
"( Al-Qur’an, surah Al-Anbiyaa’ 87)

Ku yakin, Engkau hadir malam ini, sebagaimana Engkau hadir pada setiap malam yang telah Engkau ciptakan. BagiMu, apalah artinya gelap malam ruangan tempatku bersujud dibandingkan gelapnya perut ikan yang berada di lautan yang dalam di tengah malam yang gelap saat utusanMu Yunus As mengiba belas kasihMu? Ketika kekasihMu Yunus mengharap ampunan dan cintaMu dengan Laa ilaaha illa antasubhaanka inni kuntu minaz zaalimeen, dan Engkau mengabulkannya, mengapa Engkau tidak hadirkan hal yang sama padaku ketika aku berucap yang sama dalam rukuk dan sujudku. Walau kusadar bahwa diriku jarang mengingatMu dan banyak bermaksiat kepadaMu, bukankah aku jua hambaMu, yang hadir di dunia ini atas seizinMu, yang saat ini duduk bersimpuh juga atas sepentahuanMu.
Maka kalau sekiranya dia
tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah,
niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itusampai hari berbangkit.
( Al-Qur’an, surah Ash-Shaaffaat ’143-144)
Tanpa terasa, tetes-tetes air mata menjadi hujan deras yang tiada terbendung. Sungai kecil di lekuk wajahku yang tidak halus, kini mulai melebar, membentuk anak-anak sungai, yang mengalirkan terus air mata sebelum tumpah ruah jatuh di tempat aku menumpu. Betapa malu aku aku padaMu, karena mengharap cintaMu menetap di diriku sementara aku sendiri dalam banyak waktu tidak mencintaiMu.Dua tahun barusan saja berlalu, namun sangat jarang aku bersamaMu di sepertiga malam saat malaikat-malaikatMu turun mencari hamba-hambaMu yang tunduk, rukuk dan sujud karena mencintaiMu.
Dua tahun telah berlalu, namun tidak banyak siang hariku dimana aku menahan lapar dan dahaga semata-mata agar aku bisa lebih mensyukuri rezeki yang Engkau alirkan kepadaku yang jumlahnya tiada kuasa aku menghitungnya. Dua tahun telah berlalu, namun sering aku tidak rindu padaMu dan tidak tergesa-gesa ke rumahMu ketika panggilan azan mencapai dua daun telinga ciptaanMu.
Dua tahun telah berlalu, dua kaki sempurna yang telah Engkau ciptakan kepadaKu, sedikit sekali dia melangkah munuju majelis dimana hamba-hambaMu duduk melinggar dalam liqoat panjang mengingatMu. Dua tahun telah berlalu, betapa banyak aku menyaksikan beberapa hambaMu ditandu oleh orang-orang dan dimasukkan ke bumi ciptaanMu, namun jarang sekali hatiku bergetar mengingat hari dimana aku kembali padaMu.

Telah berapa hari engkau hidup
dalam lumpur yang membunuh hatimu
sehingga getarannya tak terasa lagi..
Usia berkurang banyak tanpa jenjang
kedewasaan ruhani bertambah tinggi.
Malu kepada Allah
dan hati nurani tak ada lagi.
(Kematian hati, (alm) KH Rahmat Abdullah)

Hembusan angin perlahan menerobos diantara tirai besi jendela mengusik sejenak perhatianku. Ku menoleh ke arah jendela yang pandangannya terbatas, di luar sana ada satu bintang mengantung di langit selatan. Kuberanjak ke luar, kusaksikan ternyata ada banyak bintang di ufuk timur, utara dan ada lebih banyak lagi bintang di langit tepat di atas kepalaku. Di ufuk barat, bulan sangat purnama, seolah ingin mengalahkan sang mentari yang sebentar lagi menampakkan dirinya bersebrangan di ufuk timur. Malam ini sangat indah. Dia menghiasi langit pertama ciptaanNya di hari pertama di tahun yang baru dengan perpaduan kerlipan bintang-bintang dan purnamanya sang rembulan. Aku ingin sekali malam ini tidak pergi berlalu sebagaimana aku ingin cinta-Mu yang sempat singgah dan mendamaikan hatiKu sejenak di malam ini, tidak akan pergi lagi selamanya. Ya, Allah, aku rindu padaMu dan aku ingin cintaMu

Kembali Pada Tuhan

Jika engkau belum mempunyai ilmu,
Hanyalah prasangka,
Maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan.
Begitulah caranya!

Jika engkau hanya mampu merangkak,
maka merangkaklah kepadaNya!
Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk,
maka tetaplah persembahkan doamu yang kering, Munafik dan tanpa keyakinan itu.
Karena Tuhan dengan rahmatNya akan tetap menerima mata yang palsumu!
Jika engkau masih mempunyai seratus keraguan mengenai Tuhan,
maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.
Begitulah caranya!

Wahai musafir!
Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,
Ayolah datang dan datanglah lagi!
Karena Tuhan telah berfirman :
“Ketika engkau melambung ke angkasa ataupun terpuruk ke dalam jurang, ingatlah kepadaKu, Karena Akulah jalan itu.”

Tentang Waktu

Tentang waktu,
Yang tak seperti biasanya,
Menurutku.

Semua masih terus bertanya padanya,
Pada jarum jam yang tak hentinya berdetak,
Dan tak rela menungguku menyiapkan sepotong kejujuran,
Di separuh usiaku.

Jam dinding tua itu,
Dan penunjuk waktu yang lain,
Melekat sebuah kemewaktuan yang mencair,
Yang akan selalu jujur pada dunianya.

Tentang waktu,
Yang memaksaku berdamai dengan kenyataan,
Dan membuatku percaya tentang satu hal,
Bahwa setiap waktu adalah permulaan yang berulang.

Hari Ini Milik Kita

Kemarin, aku lupa memakai kemeja lengan panjang yang kau berikan,
Kemeja itu kau beli di pasar rombengan daya',
Ketika pulang, aku menangis tersedu-sedu, terus menyesalinya,
Dua hari yang lalu, aku tidak sempat mengingatkanmu untuk pergi membeli buku,
Kau membutuhkan buku itu untuk referensi makalah akhirmu,
Ketika ku ingat, badanku tersiksa untuk menyesalinya.

Kadangkala kita terlanjur lupa untuk saling mengingatkan,
Dan ketika kita kembali mengingatnya,
Rasanya kita tak sanggup untuk menerimanya,
Bahwa kelalaian ini kembali terjadi lagi.

Satu-satunya dengan bangga kita tak mau mengingatnya adalah,
Sudah berapa lama kita bersama sahabatku... (?)
Layaknya dua buah tiang pemancang langit yang dengan congkaknya menantang dunia!!
Dunia yang turut membesarkan kedewasaan dan persahabatan kita.

Namun ketika telah banyak yang terjadi,
Aku mulai sadar sesadar-sadarnya,
Kita tidak akan mampu seperti ini selamanya,
Bahwa memang tak ada sesuatu yang akan mampu bertahan selamanya.

...begitu pula "kita".

Padahal masih banyak yang ingin kita lakukan,
Padahal masih bertumpuk cita-cita yang kita impikan,
Padahal umur kita masih terlampau muda,
Untuk mengakhiri kebahagian ini.

Sebelum Gelap Tiba

Sebelum gelap tiba,
Dan akupun merasa lelah,
Bersalah pada waktu.

Sebelum gelap tiba,
Senja sore masih ingin menari, berlalu...
Tak sempat aku menahannya untuk tetap tinggal,
Menemaniku beberapa menit lagi, berbicara.

Sebelum gelap tiba,
Aku masih belum puas menikmati siangku,
Teriknya membakar dosa dosa,
Semoga saja kutemui ampunanNya.

Sebelum gelap tiba,
Akan ku kubur ratusan keterpurukan,
Hanya dengan dingin aku bisa meronta-ronta,
Biar saja untuk kesempatan kali ini.

Sebelum gelap tiba,
Aku tidak terlalu berharap banyak lagi,
Cukup hari ini saja aku berpaling dariMu,
Agar esok aku ingin terus bersamaMu.

Sebelum gelap tiba,
Dan akupun merasa lelah,
Mempersalahkan waktu.

Dalam Pelukan Subuh

Sedih, Haru, Capek dan Biru
Adzan Subuh menggema,
Menelusuk relung relung hati yang rindu,
Hati bergetar dalam kesunyian tombol tombol keyboard.

Allah, Benarlah Seruan-Mu,
Lebih baik Sholat daripada Tidur,
Kudatangi Engkau dalam rinduku,
Terimalah Doaku Ya Rabb....

Sajadah Panjang Terbentang

Ada sajadah panjang terbentang,
Dari kaki buaian sampai ke tepi kuburan hamba,
Kuburan hamba bila mati,

Ada sajadah panjang terbentang,
Hamba tunduk dan sujud,
Di atas sajadah yang panjang ini ,
Diselingi sekedar interupsi,
Mencari rezeki, mencari ilmu,
Mengukur jalanan seharian,
Begitu terdengar suara adzan,
Kembali tersungkur hamba,

Ada sajadah panjang terbentang,
Hamba tunduk dan rukuk,
Hamba sujud dan lepas kening hamba,
Mengingat Dikau sepenuhnya.

Sajadah panjang ini adalah dunia tempat kita lahir dan tempat kita dikuburkan jika mati. Dunia ini ibarat sajadah panjang yang diselingi interupsi berupa mencari rezeki, ilmu dan kegiatan dunia yang lain. Kenapa interupsi? Karena hal tersebut adalah hal-hal penunjang untuk mengingat Tuhan. Dan setelah itu ada waktu waktu yang kita seharusnya lepaskan dari persoalan interupsi, untuk kembali ke sajadah panjang kita.sujud merupakan pelepasan ego manusia. Ego manusia yang merasa dirinya kuat, berilmu, kaya, dll, harus dilepas dengan perbuatan sujud, dan meletakkan kepala/yang merupakan tempat befikir kembali ke bumi. Hal ini mengingatkan manusia tentang asalnya, dan jika semuanya dilakukan maka manusia akan mengingat Allah dengan sepenuhnya.

Sepenggal Pengakuan Dosa

Roda waktu menggelindingkanku ke lorong kehidupan ini. Terdampar di sebuah fase hidup yang ujung pangkalnya entah dimana. 25 tahun sudah, kaki ini melangkah, mengarungi luasnya samudera kehidupan yang tak bertepi, mencicipi manis getirnya perjuangan. Lelah, langkahku tertatih, badanku membungkuk, memikul beban hidup yang kian berat. Kuputuskan berteduh sejenak,tetesan air hujan zaman melunturkan warnaku, nyaliku menciut seiring meredupnya cahaya yang menuntun perjalananku.

Aku palingkan wajah kebelakang, tatapanku jauh menerawang menembus sekat-sekat waktu. Mataku berakomodasi maksimum, meneropong jejak-jejak langkah yang masih membekas di memoriku. Kucermati setiap jejak yang tercecer di ruas-ruas dan persimpangan jalan. Ada ke'khas'an dan pola yang sama dari langkah hidupku. Bentuk dan coraknya begitu jelas. Corak manusia pendosa.

Adrenalinku membuncah.. Rasa penyesalan menyeruak ke permukaan. Aku sadar, ternyata selama ini, kokohnya bangunan logikaku tak mampu menggeliat di tengah terpaan angin hedonisme dan materialisme. Idealismeku luluh lantah dihantam badai zaman. Setitik iman di dada tidak banyak membantu menyelesaikan permasalahan hidup yang kian pelik.

Aku menyesal. Menyesal telah melewati hari-hari yang kontradiktif dengan kodratku. Hari-hari yang membuatku larut dan terbuai oleh pesona fatamorgana hidup. Sayang,apa yang tercari selama ini ternyata hanyalah bayang semu yang tak maujud. Sungguh sia-sia..

Aku membatin. Perubahan yang paradigmatik dan revolusioner menjadi keharusan bagiku. Jika tidak, menjadi manusia pecundang adalah pilihannya. Menyongsong "aku" baru menjadi momen yang paling kunanti. Perubahan ini bukanlah untuk memperjuangkan hakku,bukan pula untuk mempertahankan egoku, tapi karena perubahan ini adalah kemestian sejarah!!!

Yang Terjerat dan Terbuang

................. Di sebuah desa di kaki gunung tempatku tinggal masih belum tersentuh oleh terangnya listrik. Gelap dan sunyi. Malam itu, langit menyembulkan bulan sabit, sehingga gelap menjadi sedikit tertolong. Sementara itu angin menjelang musim hujan tak henti-hentinya berhembus mempermainkan daun-daun bambu, hingga menimbulkan suara gemerisik. Sedangkan suara binatang malam di kejauhan sana timbul tenggelam di sela-sela angin menjadikan suasana yang sepi kian mencekam ...........

................. Jalan setapak yang aku lalui nampak gelap gulita. Sinar bulan sabit rupanya tak mampu menembus rimbunnya daun pepohohonan. Akibatnya, mata mudaku agak kesulitan menghindari gundukan-gundukan tanah yang tidak rata ...........

............. Angin yang berhembus makin kencang mempermainkan daun-daun bambu. Pucuk-pucuknya membentuk siluet hitam meliuk-liuk kesana kemari. Aku tersesat, terjerat dan terbuang di penjuru siku .............