Membekas jelas dibenakku,
Kalimat singkat mengusik naluri,
Seolah itu harapan besar bagiku,
Dan satu-satunya kenyataan yang tak pernah terjadi.
Apa yang telah kulakukan,
Aku melukai diriku sendiri,
Dengan sayatan tipis yang akan menganga,
Hanya karena emosi yang membuta.
Kini dengarkan aku,
Aku tak mau lagi mendengarkan bisikmu,
Serta suara-suara bingar yang menggema di luar sana,
Terlalu membingungkan! Menyesatkan pula.
Siapapun kau (atau apapun kau),
Aku tak sanggup lagi meneruskan,
Permainan yang kita mulai,
Tentang kunci dan pintu.
Maka jika kau memiliki kunci itu,
Bantu aku untuk membukanya,
Sebab nafasku sudah tak ada lagi,
Untuk mencoba meraih pintu-pintu yang lain.
Selasa, 13 April 2010
Antara Kunci dan Pintu (III)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar