Roda waktu menggelindingkanku ke lorong kehidupan ini. Terdampar di sebuah fase hidup yang ujung pan
gkalnya entah dimana. 25 tahun sudah, kaki ini melangkah, mengarungi luasnya samudera kehidupan yang tak bertepi, mencicipi manis getirnya perjuangan. Lelah, langkahku tertatih, badanku membungkuk, memikul beban hidup yang kian berat. Kuputuskan berteduh sejenak,tetesan air hujan zaman melunturkan warnaku, nyaliku menciut seiring meredupnya cahaya yang menuntun perjalananku.
Aku palingkan wajah kebelakang, tatapanku jauh menerawang menembus sekat-sekat waktu. Mataku berakomodasi maksimum, meneropong jejak-jejak langkah yang masih membekas di memoriku. Kucermati setiap jejak yang tercecer di ruas-ruas dan persimpangan jalan. Ada ke'khas'an dan pola yang sama dari langkah hidupku. Bentuk dan coraknya begitu jelas. Corak manusia pendosa.
Adrenalinku membuncah.. Rasa penyesalan menyeruak ke permukaan. Aku sadar, ternyata selama ini, kokohnya bangunan logikaku tak mampu menggeliat di tengah terpaan angin hedonisme dan materialisme. Idealismeku luluh lantah dihantam badai zaman. Setitik iman di dada tidak banyak membantu menyelesaikan permasalahan hidup yang kian pelik.
Aku menyesal. Menyesal telah melewati hari-hari yang kontradiktif dengan kodratku. Hari-hari yang membuatku larut dan terbuai oleh pesona fatamorgana hidup. Sayang,apa yang tercari selama ini ternyata hanyalah bayang semu yang tak maujud. Sungguh sia-sia..
Aku membatin. Perubahan yang paradigmatik dan revolusioner menjadi keharusan bagiku. Jika tidak, menjadi manusia pecundang adalah pilihannya. Menyongsong "aku" baru menjadi momen yang paling kunanti. Perubahan ini bukanlah untuk memperjuangkan hakku,bukan pula untuk mempertahankan egoku, tapi karena perubahan ini adalah kemestian sejarah!!!
gkalnya entah dimana. 25 tahun sudah, kaki ini melangkah, mengarungi luasnya samudera kehidupan yang tak bertepi, mencicipi manis getirnya perjuangan. Lelah, langkahku tertatih, badanku membungkuk, memikul beban hidup yang kian berat. Kuputuskan berteduh sejenak,tetesan air hujan zaman melunturkan warnaku, nyaliku menciut seiring meredupnya cahaya yang menuntun perjalananku.Aku palingkan wajah kebelakang, tatapanku jauh menerawang menembus sekat-sekat waktu. Mataku berakomodasi maksimum, meneropong jejak-jejak langkah yang masih membekas di memoriku. Kucermati setiap jejak yang tercecer di ruas-ruas dan persimpangan jalan. Ada ke'khas'an dan pola yang sama dari langkah hidupku. Bentuk dan coraknya begitu jelas. Corak manusia pendosa.
Adrenalinku membuncah.. Rasa penyesalan menyeruak ke permukaan. Aku sadar, ternyata selama ini, kokohnya bangunan logikaku tak mampu menggeliat di tengah terpaan angin hedonisme dan materialisme. Idealismeku luluh lantah dihantam badai zaman. Setitik iman di dada tidak banyak membantu menyelesaikan permasalahan hidup yang kian pelik.
Aku menyesal. Menyesal telah melewati hari-hari yang kontradiktif dengan kodratku. Hari-hari yang membuatku larut dan terbuai oleh pesona fatamorgana hidup. Sayang,apa yang tercari selama ini ternyata hanyalah bayang semu yang tak maujud. Sungguh sia-sia..
Aku membatin. Perubahan yang paradigmatik dan revolusioner menjadi keharusan bagiku. Jika tidak, menjadi manusia pecundang adalah pilihannya. Menyongsong "aku" baru menjadi momen yang paling kunanti. Perubahan ini bukanlah untuk memperjuangkan hakku,bukan pula untuk mempertahankan egoku, tapi karena perubahan ini adalah kemestian sejarah!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar